Sabtu, 15 Maret 2014

Ajarkan Aku Mencintai Pagi






Aku begitu membencinya! Kau bisa ajarkan aku cara mencintainya?
Kalau kalian heran, akupun heran kenapa kalian bisa mencintainya.
Aku benci hawa dingin di sekitar semesta saat pagi
Aku benci suara ayam berkokok, terdengar seperti bel "start" untuk bertemu segudang kegiatan yang membabat habis energiku
Aku benci melihat awan kelabu-hitam yang menghiasi langit sebelum mega bintang datang

Aku benci karena pagi telah merusak semuanya!
Ia membangunkanku dan mempertemukanku pada kenyataan-kenyataan pahit
Ia membangunkanku dari tidurku, padahal tak tahukah dia?
Tuhan saat itu sedang merangkai bangunan-bangunan peristiwa indah di bawah alam sadarku, tapi dengan begitu tenangnya ia datang menghancurkan
Dia tidak pernah membiarkanku tenggelam dalam mimpi yang dibangun Tuhan untukku.
Aku lebih suka berkhayal tingi-tinggi disaat malam, atau sekedar berpikir tentang kehidupanku hingga malam hampir menjumpai subuh.
Tentang siang? Dia tidak buruk.

Lalu aku lihat seorang kakek
Wajah dan tangan keriputnya menengadah ke langit
Mulutnya sedang berbisik pada semesta
Matanya sedang terpejam erat
Suaranya pun tidak ada
Tentu aku tahu semesta tidak tuli akan do'a yang dipanjatkan si kakek
Di akhir do'anya, samar terdengar kalimat yang diucapkan mulut yang kaku milik kakek

"Terimakasih pagi, kau membuktikan bahwa aku masih sanggup bernafas"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar