Entah yang keberapa untuk hari ini dan selama hidupku
Aku rasakan lagi rasa itu
Kakek tua tanpa gigi, belia cerdas, ataupun bocah kecil pemain congklak tak pernah mengerti tentang rasanya
Kitab besar milik negara sepertinya menamai sumber rasa itu Tertawa
Tidak salah lagi!
Tertawa, tak pernah sedikitpun dihariku meninggalkannya
Sangat lepas
Pernah aku tertawa waktu itu karena sesuatu
Menggelikan sungguh apa yang diucapkan mereka
Aku tertawa hingga perutku merengek kesakitan
Selalu kurasakan dalam-dalam sakitnya saat itu
Ada apa Tuhan?
Apakah di perutku tinggal seekor elang yang sedang bersedih?
Sehingga dia pun tak rela jika aku tertawa diatas kesedihannya
Dan apakah aku harus merelakan sederet nada tawaku agar aku tak merasakan sakitnya?
Oh Tuhan, kau telah menunjukkan bukti padaku bahwa setiap perbuatan selalu ada resikonya