Senin, 27 Januari 2014

Dua Sekaligus

Entah yang keberapa untuk hari ini dan selama hidupku
Aku rasakan lagi rasa itu
Kakek tua tanpa gigi, belia cerdas, ataupun bocah kecil pemain congklak tak pernah mengerti tentang rasanya
Kitab besar milik negara sepertinya menamai sumber rasa itu Tertawa
Tidak salah lagi!
Tertawa, tak pernah sedikitpun dihariku meninggalkannya
Sangat lepas

Pernah aku tertawa waktu itu karena sesuatu
Menggelikan sungguh apa yang diucapkan mereka
Aku tertawa hingga perutku merengek kesakitan
Selalu kurasakan dalam-dalam sakitnya saat itu
Ada apa Tuhan?
Apakah di perutku tinggal seekor elang yang sedang bersedih?
Sehingga dia pun tak rela jika aku tertawa diatas kesedihannya

Dan apakah aku harus merelakan sederet nada tawaku agar aku tak merasakan sakitnya?
Oh Tuhan, kau telah menunjukkan bukti padaku bahwa setiap perbuatan selalu ada resikonya


Kamis, 23 Januari 2014

REMANG



Sudah hampir jatuh air mata seorang malaikat yang gundah gulana hatinya melihat debu-debu hina yang banyak tingkah dan tak tahu tentang ucapan syukur itu.

Jauh dibawah sini, ruang hidupku tak bersinar karna gundah gulana hatinya yang tak jelas.

Ruang hidupku, kurasa ruang-ruang makhluk lainnya juga. Mungkin kamu.

Sudah tak mampir lagi si Raksasa merah besar yang memancarkan cahayanya, bahkan mengintip untuk melihatku pun tidak.

Ada apa wahai malaikat? Apa kesalahan yang membuatmu  melarang dia hanya untuk sekedar menengok kami? 

Diakah yang membunuh anakmu si Dewi cantik, Athena? 

Ataukah dia yang menyuruh Adam untuk memakan buah khuldi?

Kurasa tidak.

Biarkanlah sinarnya bangkitkan harapan dan antarkan do’a kami pada Tuhan.

Cukup sudah kau buat remang diriku.

Tak tahukah kamu wahai malaikat? Jendelaku telah tertutup oleh kabut muram kiriman banyak orang.

Maka, biarkanlah dia bersinar agar ruangku sedikit mendapat cahaya dari sela-sela kebaikan yang telah terbentuk begitu adanya..

Malaikat, jangan penjarakan sang Mentari!