Udara malam di Inggris kali ini mampu
membuat semak belukar di pinggir jalan yang kulewati saat ini melambai-lambai
seakan-akan mengucapkan hati-hati padaku. Aku bersyukur karena jarak dari rumah
Steve ke rumahku tidak begitu jauh, sehingga Aku tidak perlu lama-lama menahan
kulitku untuk terkena udara malam yang begitu menusuk ini karena aku sudah
sampai di rumah. Aku langsung berjalan cepat melewati adikku yang sedang
membuka bungkus cokelat dan langsung meraih gagang pintu kamarku.
Aku mengambil ponsel di kantung
kemejaku dan langsung mengeceknya. Pesan singkat dari Felix muncul. Pria yang
Aku sayangi, tapi sudah lama tidak bertemu.
“Ris,
besok makan malam bareng gua yuk!”
Sontak saja Aku terkejut, rasanya seperti ada koloni
semut yang berjalan di otakku dan merusak semua sistem pikiranku. Indah, tidak
mungkin, tapi nyata.
“Wah.. Ada urusan apa
nih? Kok makan malam segala”, kutekan tombol kirim.
“Sesuatu pokoknya, besok jam tujuh malam gua jemput yah.
Bye!”, balasnya beberapa menit kemudian.
Aku terus memikirkan perihal sesuatu
yang dimaksud Felix. Apakah dia ingin pergi dari kota ini? Masalah apa yang
sebenarnya yang ingin dia ceritakan padaku? Ada apa sih?. Pertanyaan-pertanyaan
itu terus melintas dipikiranku. Akhirnya, novel karya R.L. Stine mampu menghapus rasa penasaranku
akan sesuatu yang dimaksud Felix.
***
Lagu Black Star milik Avril Lavigne
menemaniku memilah-milah baju yang cocok untuk dipakai saat makan malam nanti.
Akhirnya, Aku memutuskan memakai dress berlengan dengan panjang
selutut berwarna khaki yang senada dengan kulitku dan flatshoes. Kemudian Aku
menyisir rambut gelombangku dan mengikatnya menjadi satu.
“Kak, kakak harus pakai bedak. Tapi tipis aja”, kata Adikku
sambil memeluk boneka monyetnya.
“Akan kucoba”, jawabku.
Aku mengoleskan sedikit bedak ke wajahku. Hasilnya tidak
buruk, terlihat lebih natural pendapat adikku.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh,
segera saja aku berpamitan dan menuju teras depan. Sebuah mobil hitam berhenti
di depan pagar rumah, dan dari dalam seorang membuka pintu. Lalu, keluarlah
Felix dengan menggunakan kaos polo hitam, jeans, dan sepatu conversenya yang
lusuh. Dia tidak jauh beda seperti pertemuan sebelumnya, begitu santai. Felix
menghampiriku, dan langsung mengajakku masuk ke mobilnya. Suasanya di dalam
mobil begitu kaku sampai akhirnya Aku yang membuka pembicaraan.
“Lix, kita mau makan dimana?”, tanyaku perlahan.
“Rahasia”, jawabnya singkat.
“Hmm.. Ada hal yang mau
kamu omongin yah?”, tanyaku lagi.
“Ada sedikit sih, menyangkut kita”, ujarnya kemudian. Felix
sedikit menekan suaranya pada kata ‘kita’
Mendengar jawabannya yang
singkat-singkat, Aku jadi jengkel dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Di
perjalanan, Aku melirik wajahnya. Mata berwarna cokelat yang bersih, hidung
yang mancung sempurna, serta bibir yang terpahat indah yang kuduga telah
diperhitungkan secara teliti oleh Tuhan. Aku mengira-ngira akan mengarah kemana
mobil yang disetir oleh Felix. Tapi sayang, sepertinya jalanan ini belum pernah
kulewati.
“Lix, sekarang kita dimana sih?”, tanyaku penasaran.
“Rahasia”, katanya.
“Mainnya rahasia-rahasiaan nih.. Hahahahah”, candaku sambil
mengelitiki pinggangnya.
“Hey, nanti nabrak jangan dikelitikin dong!”, ujarnya
sambil menahan tawa.
“Iya maaf. Kamu mau ngomong apa sih, Lix?”, tanyaku lagi.
Felix tidak menjawab, pandangannya
tetap berfokus pada jalan di depannya. Beberapa menit kemudian, mobil hitam
milik Felix berbelok ke sebuah restoran mewah. Felix turun terlebih dahulu, ia
langsung membukakan pintu mobil dan membantuku turun. Tangan kanannya mengapit
tangan kiriku, sambil terus berjalan memasuki restoran.
“Silahkan”, ujar Felix sambil menarik sebuah kursi untuk
kududuki.
“Terima kasih”, balasku.
“ Ris, mau pesan apa?”, tanyanya lembut.
“Macaroni soup sama air putih aja, Lix!”, ucapku.
“Satu macaroni soup, dan beef steak, terus dua air
mineral”, kata Felix menjelaskan pada pelayan.
“Baik, mohon tunggu limabelas menit”, jawab pelayan.
Limabelas menitpun berlalu, dan makanan
telah tiba. Pelayan memberikan masing-masing makanan kepadaku dan Felix,
kemudian pergi. Aku bersiap memegang sendok soup, dan meletakkan tissue di
pangkuanku layaknya tata cara makan di istana. Macaroni soup yang Aku pesan
cukup lezat. Aku memakannya secara perlahan, mulai dari menyicipi kuah, jamur,
dan macaroninya. Begitupun dengan Felix, ia tampak menikmati menunya dengan
ahhh.. Aku tidak bisa menjelaskannya. Dia begitu elegan, dan tampan dalam
kondisi seperti apapun.
“Ingat sepuluh tahun lalu, Ris?” tanya Felix tenang.
“Sepuluh tahun? Waktu kita masih kelas lima di sekolah
dasar?” jawabku heran.
Felix mengangguk penuh arti sambil hendak meminum air.
“Ada apa?”
“Ingat tentang sebuah box berisi cita-cita kita dulu?”
“Time capsul*? Iya aku
ingat. Apakah sudah saatnya kita membuka box itu?”, jawabku cepat dan antusias.
“Sekarang kita duapuluh satu, dan dulu kita menguburnya
saat berumur sebelas. Sekarang sudah waktunya!”, ujarnya menjelaskan.
Hatiku rasanya ingin keluar, jika
mengingat apa yang aku tulis di kertas dan memasukkannya ke dalam time capsul.
Apakah semua hal konyol yang kutulis akan dimaklumi oleh Felix, atau dia malah
menganggapku aneh. Oh.. Tidak! Makan malam pun berjalan dengan sunyi, sampai
akhirnya Felix membayar bill menu.
Aku masuk ke dalam mobil, begitupun Felix.
Di perempatan jalan, Felix malah membelok ke arah berlainan. Aku diam saja,
karena kupikir Felix akan mengambil jalan pintas agar lebih cepat mengantarku
pulang. Tapi dugaanku salah, Aku merasa bahwa Felix membawaku ketempat dulu
kami seriing bermain waktu di sekolah dasar. Tempatnya sudah jauh berbeda dari
sepuluh tahun yang lalu, jadi Aku sedikit merasa asing.
***
Mobil berhenti, dan kamipun turun.
Senang rasanya menginjakkan kaki di tempat yang dulu sering kita datangi
bersama teman. Kemudian, Felix menggandeng tanganku dan menarikku ke arah
taman. Di taman, mata Felix menyisir seluruh taman dan seperti mencari sesuatu.
Mataku juga ikut menyisir seluruh taman, siapa tahu menemukan sesuatu yang
dicari Felix.
“Ahh.. Itu!”, ucap Felix girang sambil menunjuk sebuah
pohon.
“Apa?”, tanyaku kebingungan
“Ayok sini!”, ajak Felix.
Aku mengikutinya dari belakang, heran
dengan pohon yang ditunjuk Felix. Ada apa dengan pohon itu, pikirku dalam hati.
Sampai di pohon, aku melihat sebuah goresan huruf ‘S’ di kulit batangnya,
samar-samar aku mengingat sesuatu. Yeah, memang sulit mengetahui apa yang kita
lakukan sepuluh tahun lalu di suatu tempat kan? Felix mengeluarkan sekop dan
mulai menggali tanah di bawah pohon itu. Ia terus menggali, sampai ketika
sekopnya mengeluarkan suara nyaring akibat terkena sesuatu. Lalu, ia mengeluarkan
box dari dalam tanah yang ia gali.
“Woow!”, ucapku setengah menjerit karena kagum dengan box
itu.
“Sudah saatnya dibuka, mari membaca kertas lawan hahaha”,
balasnya sambil tertawa
“Cepat buka..”,
Akhirnya, box yang bertuliskan “TIME
CAPSUL” ditutupnya dibuka juga. Ada dua buah kertas yang dilipat rapih.
Masing-masing kertas ada inisial namanya, milikku berinisial R dan Felix F. Aku
mengambil kertas milik Felix dan membacanya dalam hati. Banyak yang dia ceritakan
dalam kertas itu. Antara lain, ingin membuat pentas drama, ingin bercengkrama
dengan Ratu Inggris, hingga memakai topi bulu beruang yang dipakai oleh
prajurit istana Inggris. Tapi ada satu kalimat yang membuatku tertarik
membacanya. Kalimat itu adalah “Ingin menyatakan cinta pada Risa di depan
London Eye”. Langsung saja aku menutup mulutku rapat-rapat untuk menahan
mulutku agar tidak menjerit kegirangan karena Felix ingin berpacaran denganku.
Ternyata, selama ini perasaanku terhadapanya dan sebaliknya sama. Kami saling
sayang dan cinta. Aku melihat dia sedang senyum-senyum sambil membaca kertas
milikku, kurasa harapanku waktu kecil dulu begitu konyol dan membuat orang yang
membacanya tertawa.Aku terus melihatnya sampai akhirnya wajahnya tampak serius.
Hatiku berdentang lebih cepat memikirkan apa yang sedang dibaca Felix. Lalu, Felix
langsung memelukku erat dan menaruh kertas harapan milikku di sebelahnya, Saat
memelukku, Aku berusaha mengambil kertas itu dan membacanya. Ohh.. Ternyata di
kertas itu Aku menulis “Ingin berpacaran dengan Felix di depan London Eye”.
Bagaimana bisa? Aku lupa aku pernah menuliskan itu, tapi ini nyata. Ini
benar-benar coretan tanganku. Aku melepaskan diri dari pelukan Felix karena
takut ketahuan dan diperhatikan orang lain.
“Pokoknya, gua sayang
banget deh sama lo, Ris!”
“Iya, aku juga.”, balasku
“Iya, aku juga.”, balasku
“Gua ganyangka-nyangka kalo selama ini lo juga suka sama
gua. Tahu kayak gitu, gua udah nembaklo dari dulu!”, kata Felix gembira.
Aku hanya tersenyum melihat Felix yang girang karena tahu
perasaanku sesungguhnya. Kemudian, ia langsung menarikku masuk ke dalam mobil
dan mengemudikannya.
***
Sekarang kami berdua sudah berada di
depan sebuah kincir besar, London Eye. Aku tidak menyangka kalau sekarang aku
berdiri disini bersama Felix. Aku merasa ini hanya mimpi, tapi tentu saja
tidak. London Eye, tempat yang selalu aku kagumi dan ingin ku naikki.
Membayangkan bagaimana kehidupan malam hari kota London, kerlap-kerlip lampu
dari puncak paling atas kincirnya, dan semuanya. Tak pernah terpikirkan.
“London Eye, huh?”, tanya Felix.
“Ya, London Eye. Lon-don-eye!”, ucapku kembali.
“Jadi, Larisa Willies Brown, melihat semua harapan yang ada
di kertas dalam time capsul. Would you be My one less lonely girl?”, tanya
Felix, sambil memegang pergelangan tanganku.
“Dan Felix, melihat semua harapan yang
ada di kertas dalam time capsul. I would!”, jawabku menerima cintanya.
Air mataku berada di sudut. Semua yang
aku harapkan dengannya terjadi, begitu indah dan menghanyutkan. London Eye ini
menjadi saksi terjadinya hubunganku dengan Felix. Lalu, kami naik ke kapsul
London Eye. Di puncak paling atas, kami melihat keindahan kota London berikut
kehidupannya. Thanks God, I real really, really, really love You! Ucapku dalam
hati pada Tuhan. Felix mendekatkan wajahnya padaku, perlahan aku dapat
merasakan nafasnya di dahiku. Dan beberapa saat kemudian kami berciuman.
Menyenangkan rasanya bersama orang yang kita sayang di tempat yang indah.
*Time capsul adalah sebuah box yang terbuat dari semacam
alumunium atau stainless steal yang tidak mudah rusak, biasa dipakai untuk
menyimpan barang berharga atau kenangan di dalam tanah. Dan baru dibuka kembali
sepuluh tahun kemudian.
#Bismillah #InggrisGratis
#CeritaFiksi #SemogaJadiKenyataan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar