Jumat, 23 Mei 2014

Thank you for the love, London Eye!



Udara malam di Inggris kali ini mampu membuat semak belukar di pinggir jalan yang kulewati saat ini melambai-lambai seakan-akan mengucapkan hati-hati padaku. Aku bersyukur karena jarak dari rumah Steve ke rumahku tidak begitu jauh, sehingga Aku tidak perlu lama-lama menahan kulitku untuk terkena udara malam yang begitu menusuk ini karena aku sudah sampai di rumah. Aku langsung berjalan cepat melewati adikku yang sedang membuka bungkus cokelat dan langsung meraih gagang pintu kamarku.
Aku mengambil ponsel di kantung kemejaku dan langsung mengeceknya. Pesan singkat dari Felix muncul. Pria yang Aku sayangi, tapi sudah lama tidak bertemu.
                “Ris, besok makan malam bareng gua yuk!”
Sontak saja Aku terkejut, rasanya seperti ada koloni semut yang berjalan di otakku dan merusak semua sistem pikiranku. Indah, tidak mungkin, tapi nyata.
“Wah.. Ada urusan apa nih? Kok makan malam segala”, kutekan tombol kirim.
“Sesuatu pokoknya, besok jam tujuh malam gua jemput yah. Bye!”, balasnya beberapa menit kemudian.
Aku terus memikirkan perihal sesuatu yang dimaksud Felix. Apakah dia ingin pergi dari kota ini? Masalah apa yang sebenarnya yang ingin dia ceritakan padaku? Ada apa sih?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus melintas dipikiranku. Akhirnya, novel karya  R.L. Stine mampu menghapus rasa penasaranku akan sesuatu yang dimaksud Felix.

***

Lagu Black Star milik Avril Lavigne menemaniku memilah-milah baju yang cocok untuk dipakai saat makan malam nanti. Akhirnya, Aku memutuskan ­­­­­­­­­memakai dress berlengan dengan panjang selutut berwarna khaki yang senada dengan kulitku dan flatshoes. Kemudian Aku menyisir rambut gelombangku dan mengikatnya menjadi satu.
“Kak, kakak harus pakai bedak. Tapi tipis aja”, kata Adikku sambil memeluk boneka monyetnya.
“Akan kucoba”, jawabku.
Aku mengoleskan sedikit bedak ke wajahku. Hasilnya tidak buruk, terlihat lebih natural pendapat adikku.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh, segera saja aku berpamitan dan menuju teras depan. Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar rumah, dan dari dalam seorang membuka pintu. Lalu, keluarlah Felix dengan menggunakan kaos polo hitam, jeans, dan sepatu conversenya yang lusuh. Dia tidak jauh beda seperti pertemuan sebelumnya, begitu santai. Felix menghampiriku, dan langsung mengajakku masuk ke mobilnya. Suasanya di dalam mobil begitu kaku sampai akhirnya Aku yang membuka pembicaraan.
“Lix, kita mau makan dimana?”, tanyaku perlahan.
“Rahasia”, jawabnya singkat.
“Hmm.. Ada hal yang mau kamu omongin yah?”, tanyaku lagi.
“Ada sedikit sih, menyangkut kita”, ujarnya kemudian. Felix sedikit menekan suaranya pada kata ‘kita’
Mendengar jawabannya yang singkat-singkat, Aku jadi jengkel dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Di perjalanan, Aku melirik wajahnya. Mata berwarna cokelat yang bersih, hidung yang mancung sempurna, serta bibir yang terpahat indah yang kuduga telah diperhitungkan secara teliti oleh Tuhan. Aku mengira-ngira akan mengarah kemana mobil yang disetir oleh Felix. Tapi sayang, sepertinya jalanan ini belum pernah kulewati.
“Lix, sekarang kita dimana sih?”, tanyaku penasaran.
“Rahasia”, katanya.
“Mainnya rahasia-rahasiaan nih.. Hahahahah”, candaku sambil mengelitiki pinggangnya.
“Hey, nanti nabrak jangan dikelitikin dong!”, ujarnya sambil menahan tawa.
“Iya maaf. Kamu mau ngomong apa sih, Lix?”, tanyaku lagi.
Felix tidak menjawab, pandangannya tetap berfokus pada jalan di depannya. Beberapa menit kemudian, mobil hitam milik Felix berbelok ke sebuah restoran mewah. Felix turun terlebih dahulu, ia langsung membukakan pintu mobil dan membantuku turun. Tangan kanannya mengapit tangan kiriku, sambil terus berjalan memasuki restoran.
“Silahkan”, ujar Felix sambil menarik sebuah kursi untuk kududuki.
“Terima kasih”, balasku.
“ Ris, mau pesan apa?”, tanyanya lembut.
“Macaroni soup sama air putih aja, Lix!”, ucapku.
“Satu macaroni soup, dan beef steak, terus dua air mineral”, kata Felix menjelaskan pada pelayan.
“Baik, mohon tunggu limabelas menit”,  jawab pelayan.
Limabelas menitpun berlalu, dan makanan telah tiba. Pelayan memberikan masing-masing makanan kepadaku dan Felix, kemudian pergi. Aku bersiap memegang sendok soup, dan meletakkan tissue di pangkuanku layaknya tata cara makan di istana. Macaroni soup yang Aku pesan cukup lezat. Aku memakannya secara perlahan, mulai dari menyicipi kuah, jamur, dan macaroninya. Begitupun dengan Felix, ia tampak menikmati menunya dengan ahhh.. Aku tidak bisa menjelaskannya. Dia begitu elegan, dan tampan dalam kondisi seperti apapun.
“Ingat sepuluh tahun lalu, Ris?” tanya Felix tenang.
“Sepuluh tahun? Waktu kita masih kelas lima di sekolah dasar?” jawabku heran.
Felix mengangguk penuh arti sambil hendak meminum air.
“Ada apa?”
“Ingat tentang sebuah box berisi cita-cita kita dulu?”
“Time capsul*? Iya aku ingat. Apakah sudah saatnya kita membuka box itu?”, jawabku cepat dan antusias.
“Sekarang kita duapuluh satu, dan dulu kita menguburnya saat berumur sebelas. Sekarang sudah waktunya!”, ujarnya menjelaskan.
Hatiku rasanya ingin keluar, jika mengingat apa yang aku tulis di kertas dan memasukkannya ke dalam time capsul. Apakah semua hal konyol yang kutulis akan dimaklumi oleh Felix, atau dia malah menganggapku aneh. Oh.. Tidak! Makan malam pun berjalan dengan sunyi, sampai akhirnya Felix membayar bill menu.
Aku masuk ke dalam mobil, begitupun Felix. Di perempatan jalan, Felix malah membelok ke arah berlainan. Aku diam saja, karena kupikir Felix akan mengambil jalan pintas agar lebih cepat mengantarku pulang. Tapi dugaanku salah, Aku merasa bahwa Felix membawaku ketempat dulu kami seriing bermain waktu di sekolah dasar. Tempatnya sudah jauh berbeda dari sepuluh tahun yang lalu, jadi Aku sedikit merasa asing.

***
Mobil berhenti, dan kamipun turun. Senang rasanya menginjakkan kaki di tempat yang dulu sering kita datangi bersama teman. Kemudian, Felix menggandeng tanganku dan menarikku ke arah taman. Di taman, mata Felix menyisir seluruh taman dan seperti mencari sesuatu. Mataku juga ikut menyisir seluruh taman, siapa tahu menemukan sesuatu yang dicari Felix.
“Ahh.. Itu!”, ucap Felix girang sambil menunjuk sebuah pohon.
“Apa?”, tanyaku kebingungan
“Ayok sini!”, ajak Felix.
Aku mengikutinya dari belakang, heran dengan pohon yang ditunjuk Felix. Ada apa dengan pohon itu, pikirku dalam hati. Sampai di pohon, aku melihat sebuah goresan huruf ‘S’ di kulit batangnya, samar-samar aku mengingat sesuatu. Yeah, memang sulit mengetahui apa yang kita lakukan sepuluh tahun lalu di suatu tempat kan? Felix mengeluarkan sekop dan mulai menggali tanah di bawah pohon itu. Ia terus menggali, sampai ketika sekopnya mengeluarkan suara nyaring akibat terkena sesuatu. Lalu, ia mengeluarkan box dari dalam tanah yang ia gali.
“Woow!”, ucapku setengah menjerit karena kagum dengan box itu.
“Sudah saatnya dibuka, mari membaca kertas lawan hahaha”, balasnya sambil tertawa
“Cepat buka..”,
Akhirnya, box yang bertuliskan “TIME CAPSUL” ditutupnya dibuka juga. Ada dua buah kertas yang dilipat rapih. Masing-masing kertas ada inisial namanya, milikku berinisial R dan Felix F. Aku mengambil kertas milik Felix dan membacanya dalam hati. Banyak yang dia ceritakan dalam kertas itu. Antara lain, ingin membuat pentas drama, ingin bercengkrama dengan Ratu Inggris, hingga memakai topi bulu beruang yang dipakai oleh prajurit istana Inggris. Tapi ada satu kalimat yang membuatku tertarik membacanya. Kalimat itu adalah “Ingin menyatakan cinta pada Risa di depan London Eye”. Langsung saja aku menutup mulutku rapat-rapat untuk menahan mulutku agar tidak menjerit kegirangan karena Felix ingin berpacaran denganku. Ternyata, selama ini perasaanku terhadapanya dan sebaliknya sama. Kami saling sayang dan cinta. Aku melihat dia sedang senyum-senyum sambil membaca kertas milikku, kurasa harapanku waktu kecil dulu begitu konyol dan membuat orang yang membacanya tertawa.Aku terus melihatnya sampai akhirnya wajahnya tampak serius. Hatiku berdentang lebih cepat memikirkan apa yang sedang dibaca Felix. Lalu, Felix langsung memelukku erat dan menaruh kertas harapan milikku di sebelahnya, Saat memelukku, Aku berusaha mengambil kertas itu dan membacanya. Ohh.. Ternyata di kertas itu Aku menulis “Ingin berpacaran dengan Felix di depan London Eye”. Bagaimana bisa? Aku lupa aku pernah menuliskan itu, tapi ini nyata. Ini benar-benar coretan tanganku. Aku melepaskan diri dari pelukan Felix karena takut ketahuan dan diperhatikan orang lain.
“Pokoknya, gua sayang banget deh sama lo, Ris!”
“Iya, aku juga.”, balasku
“Gua ganyangka-nyangka kalo selama ini lo juga suka sama gua. Tahu kayak gitu, gua udah nembaklo dari dulu!”, kata Felix gembira.
Aku hanya tersenyum melihat Felix yang girang karena tahu perasaanku sesungguhnya. Kemudian, ia langsung menarikku masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya.

***

Sekarang kami berdua sudah berada di depan sebuah kincir besar, London Eye. Aku tidak menyangka kalau sekarang aku berdiri disini bersama Felix. Aku merasa ini hanya mimpi, tapi tentu saja tidak. London Eye, tempat yang selalu aku kagumi dan ingin ku naikki. Membayangkan bagaimana kehidupan malam hari kota London, kerlap-kerlip lampu dari puncak paling atas kincirnya, dan semuanya. Tak pernah terpikirkan.
“London Eye, huh?”, tanya Felix.
“Ya, London Eye. Lon-don-eye!”, ucapku kembali.
“Jadi, Larisa Willies Brown, melihat semua harapan yang ada di kertas dalam time capsul. Would you be My one less lonely girl?”, tanya Felix, sambil memegang pergelangan tanganku.
“Dan Felix, melihat semua harapan yang ada di kertas dalam time capsul. I would!”, jawabku menerima cintanya.
Air mataku berada di sudut. Semua yang aku harapkan dengannya terjadi, begitu indah dan menghanyutkan. London Eye ini menjadi saksi terjadinya hubunganku dengan Felix. Lalu, kami naik ke kapsul London Eye. Di puncak paling atas, kami melihat keindahan kota London berikut kehidupannya. Thanks God, I real really, really, really love You! Ucapku dalam hati pada Tuhan. Felix mendekatkan wajahnya padaku, perlahan aku dapat merasakan nafasnya di dahiku. Dan beberapa saat kemudian kami berciuman. Menyenangkan rasanya bersama orang yang kita sayang di tempat yang indah.

*Time capsul adalah sebuah box yang terbuat dari semacam alumunium atau stainless steal yang tidak mudah rusak, biasa dipakai untuk menyimpan barang berharga atau kenangan di dalam tanah. Dan baru dibuka kembali sepuluh tahun kemudian.

#Bismillah #InggrisGratis #CeritaFiksi #SemogaJadiKenyataan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar